Jumat, 01 Juli 2011

Kung Fu Kid Mengingatkan Bahaya Game buat Anak

Film kung fu kid bergaya jepang adalah pukulan telak untuk penyedia game berbalut pendidikan. Film ini bercerita tentang seorang bocah 8 tahun yang sedang mencari lawan terakhir untuk menyempurnakan ilmu bela dirinya : kung fu. Sang guru mengirim bocah tersebut (Zhang Zhuang) ke Jepang, karena musuh terakhirnya ada di negara yang membuat film ini, Jepang. What? Film Kung Fu buatan Jepang?
Zhang Zhuang pemeran jagoan kung fu

Zhang Zhuang pemeran jagoan kung fu

Aku sendiri agak terkejut ketika membaca poster film ini di bioskop. Film ini dibuat oleh Issei Oda pada 2008 dengan judul asli Kung Fu Kun. Setelah disetel dalam skala internasional, baru diganti judulnya dengan Kung Fu Kid. Saat menunggu temanku yang memberikan tiket gratis film ini, Chandra, aku menduga-duga, jangan-jangan film ini bergaya film anak-anak jepang seperti Voltus V, Power Ranger, Lion Man, dan semacamnya. Wah, jadi penasaran banget.

Kembali ke ceritanya. Sang bocah yang telah mengalahkan puluhan lawan tanding di China ini harus mengalahkan musuh pamungkasnya di Jepang. Iapun diterbangkan oleh gurunya seperti kilatan api yang melesat dan numplek di depan seorang nenek pemilik kedai di Jepang. Sang nenek hanya tinggal bersama cucunya yang cantik, yang masih sekolah di sebuah SD. Jadilah si bocah kecil dan imut ini dipelihara dan diberi nama Kung Fu.

Yang menjadi catatanku untuk film ini adalah musuh terakhir Kung Fu, yaitu sebuah perusahaan game berlabel Black. Perusahaan game tersebut telah menguasai kementrian pendidikan Jepang dengan mengubah kurikulum pendidikan nasional dengan kurikulum mereka. Parahnya, kurikulum buatan perusahaan game ini dikemas dalam bentuk game. Ya, game! Jadi semua siswa dilarang memakai buku dan digantikan dengan gadget. Setiap hari, siswa harus menyelesaikan beberapa level dan beragam jenis game. Guru yang menentang perubahan kurikulum pendidikan ini justru ditangkap. Di sinilah peran bocah Kung Fu, mengalahkan pimpinan perusahaan game Black, yang ternyata adalah mantunya si nenek pemilik kedai, yang kabur saat kerasukan monster jahat.

Yeach, akhirnya dugaanku terlihat juga. Film ini benar-benar bergaya film anak-anak Jepang. Selalu ada monster robot yang besar bagai raksasa, gerombolan musuh yang bergaya diserem-seremin namun tetap kocak, dan sebagaimana lazimnya film komedi anak a la Jepang.

Sebagai film anak, aku memberikan 4 bintang buat rating film ini. Kisahnya menarik, lucu, namun tetap seru dan menyenangkan. Anakku beberapa kali tertawa ngakak ketika melihat beberapa adegan seru tapi kocak. Namun yang membuat ratingku tinggi sebenarnya pesan moral dari film ini, yaitu betapa bahayanya game buat perkembangan pendidikan anak. Game bahkan bisa mempengaruhi sikap anak maupun orang dewasa menjadi kaku, kasar, dan buruk.

Akupun teringat dengan gencarnya iklan game di televisi. Terutama di stasiun TV Space Toon yang awalnya menjadi pilihan keluargaku tetapi kini sering kublock, karena iklan-iklannya didominasi dengan iklan game via handphone dengan cara ketik *777*xx#. Aku khawatir anakku akan tergiur oleh iklan game tersebut dan ia mendownloadnya, lalu hanyut dalam dunia game yang tak ada habisnya. Efeknya, pasti banyak negatifnya ketimbang positif.

Buat yang belum nonton, silakan lihat trailernya :

Teman, apakah anda tak khawatir apabila anak anda menyibukkan hari-harinya dengan bermain game?

Read more: kung fu kid vs game provider | blogging by passion http://mataharitimoer.blogdetik.com/2011/07/01/kung-fu-kid-mengingatkan-bahaya-game-buat-anak/#ixzz1Qm8vRVq2
Under Creative Commons License: Attribution Non-Commercial No Derivatives